AL-QUR’AN DAN HADIST
“ASPEK-ASPEK KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN”
DISUSUN
OLEH
NAMA : AYU FARDILLA
NIM :102 10 10 100 11
JURUSAN : AKUNTANSI
ASPEK-ASPEK KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN
I.
PENDAHULUAN
Salah satu objek penting lainya dalam kajian ‘Ulumul Qur’an’
adalah perbincangan mengenai mukjizat. Persoalan mukjizat,
terutama mukjizat Al-Qur’an , sempat menyeret para teolog klasik dalam
perdebatan yang berkepenjangan, terutama antara teolog dari kalangan Mu’tazilah
dan para teolog dari kalangan Ahlussunnah mengenai konsep shirfah.
Dengan perantara mukjizat, Allah mengingatkan manusia
bahwa para rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan bantuan dari
langit. Mukjizat yang telah diberikan kepada para nabi mempunyai fungsi
yang sama, yaitu memainkan perananya dan mengatasi kepandaian kaumnya disamping
membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu berada diatas segala-galanya.
Suatu umat yang tinggi pengetahuanya dalam ilmu kedokteran,
misalnya tidak wajar dituntun dengan mukjizat dalam ilmu tata bahasa,
begitu pula sebaliknya. Tuntunan dan pengarahan yang ditunjukan pada suatu umat
harus berkaitan dengan pengetahuan mereka karena Allah tidak akan mengarahkan
suatu umat pada hal-hal yang tidak mereka ketahui. Tujuanya adalah agar
tuntunan dan pengarahan Allah bermakna. Disitulah letak mukjizat yang
telah diberikan kepada para Nabi.
II.
ISI
- Aspek-aspek Kemukjizatan
Alquran
Dalam sejarah kemunculan dan
berkembangnya pembinaan tentang Kemukjizatan Alquran , terlihat bahwa para ahli
berbeda pendapat dalam melihat aspek-aspek kemukjizatan Alquran yang dipandang
penting. Namun dari berbagai perbedaan itu , secara global tidak terlepas dari
empat aspek yang meliputi: (1) as-Sharfah, (2) Keindahan bahasa, (3) Ketelitian
Redaksi, dan (4) Kandungan isinya.
Untuk lebih jelasnya, ketiga aspek ini dapat
diuraikan sebagai berikut:
1.
Aspek Ash-Sharfah
Dari kalangan mutakallimin, Abu
Ishak Ibrahim An-Nazzam 1,
berpendapat, bahwa kemukjizatan Alquran terjadi dengan cara Ash-Sharfah
(pemalingan). Arti Ash-Sharfah menurut An-Nazzam ialah, bahwa Allah memalingkan
perhatian orang-orang Arab dari menandingi Al;-Quran. Padahal, mereka
sebenarnya mampu untuk menandinginya. Di sinilah letak kemukjizatan Al-Qur’an
menurut An-Nazzam.
Tokoh lain dari pendukung konsep
Ash-Sharfah ialah Al-Murtadha (dari aliran Syi'ah). Hanya saja Al-Murtadha berpendapat , bahwa Allah telah mencabut dari
mereka ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menghadapi qur’an agar mereka tidak
mampu membuat yang seperti qur’an.
Pendapat ini menunjukkan kelemahan
pemiliknya itu sendiri . akan tetapi yang melemahkan (mu’jiz) adalah kekuasaan
Allah ,dan demikian qur’an bukanlah mukjizat.
Abu Bakar Al-Baqillani, merupakan
salah seorang tokoh Asya'irah yang menolak konsep ini.
Berkata Qadi abu bakar al-baqalani 2 :”salah satu hal yang membatalkan pendapat sirfah ialah, kalaulah menandingi qur’an
itu mungkin tetapi mereka dihalangi oleh sirfah
maka kalam Allah itu tidak mukjizat , melainkan sirfah itu lah yntang lain”
Pendapat tentang sirfah ini batil dan ditolak oleh qur’an
sendiri dalam firman-Nya:
“sesunguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang serupa Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat
membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi
sebagian yang lain.” (al-Isra’ (17) :88)
2. Keindahan
Bahasa (Fashahah dan Balaghah)
Aspek kedua dari kemukjizatan
Alquran yang menjadi pokok bahasan para ulama Kalam ialah dari segi keindahan
bahasanya. Dalam hal ini, Bahasa Arab yang digunakan Alquran dipandang sebagai
bahasa yang istimewa, baik dari segi gaya bahasanya, susunan kata-katanya,
maupun ketelitian redaksi yang digunakannya.. Keindahannya, jauh melebihi
keindahan bahasa yang disusun oleh para sastrawan Arab.
2 Ia adalah Qadi Abu Bakar
Muhammad Ibnu Tayyib Al-Baqalani, Penulis kitab Ijazul Qur’an dan at- Taqrib
wal Irsyad tentang Usul Fiqh. Wafat pada 403 H.
3. Kandungan
Isinya
Pembahasan mengenai aspek kemukjizatan Alquran dari segi
kandungan isinya, Di antara isi dan kandungan Alquran yang menunjukkan
kemukjizatannya, secara garis besar dapat diklassifikasikan kepada tiga jenis
sebagai berikut:
1.
Berita
tentang Hal-hal yang Ghaib
Beritan-berita ghaib yang terdapat dalam Alquran dapat
dikelompokkan kepada:
1) Berita-berita ghaib yang terjadi sebelumnya; yaitu
berita-berita tentang orang-orang terdahulu.
2) Berita-berita ghaib yang sedang terjadi di tempat lain.
Seperti mengenai maksud jahat orang-orang munafik dengan membangun masjid
Dhirar (Q. S. 9: 107); atau berita ghaib yang terjadi di tempat yang sama.
Seperti sikap orang-oraorang munafik yang bermanis muka di hadapan Nabi,
padahal hatinya buruk dan sangat memusuhi Nabi (Q. S. 2: 204 - 206).
3) Berita-berita ghaib yang akan terjadi (sesudah turunnya
wahyu). JHGIUUSeperti kemenangan yang akan diperoleh tentara Romawi dalam
menghadapin bangsa Persia (Q. S. 30: 1 - 6); Nabi dan para sahabatnya akan
memasuki kota Mekkah dalam keadaan aman (Q. S. 48: 27); Allah akan mengabadikan
jenazah Fir'aun sebagai bukti historis (Q. S. 10: 92); Kemurnian Alquran tetap
akan terpelihara (Q.S. 15: 9); dan berbagai masalah ghaib lainnya yang
ditunjukkan oleh Alquran, baik secara eksplisit maupun implisit.
2.
Isyarat-isyarat
Ilmiah
Isi dan kandungan Alquran banyak menginformasi-kan
masalah-masalah ilmiah yang hanya mungkin diketahui oleh ilmuwan abad modern
ini. Ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah semacam ini, semakin lama semakin
banyak ditemukan dalam Alquran, sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu
pengetahuan. Di antara ayat-ayat tersebut yang sudah dibuktikan kebenarannya
melalui penemuan di bidang ilmu pengetahuan Alam antara lain:
1) Hukum Toricelly yang ditemukan pada abad XVII M,
menyatakan bahwa semakin tinggi suatu tempat, maka semakin rendah tekanan udara
yang ada di tempat itu. Hukum ini diisyaratkan Alquran dalam Surat Al-An'am/6:125
2)
Siang dan malam tidak selalu sama lama (tempo)nya. Kadangkala malam lebih
panjang daripada siang, dan kadangkala juga terjadi sebaliknya. Hal ini
mengundang tanda tanya untuk dipikirkan jawabannya, seperti tersirat pada Surat
Yunus/10: 6.
3)
Dari hasil pemantauan satelit diperoleh bukti, bahwa Jazirah Arab beserta
gung-gunungnya bergerak mendekati Iran dengan pergerakan yang sangat lamban,
hanya beberapa sentimeter setiap tahunnya. Isyarat ini terlihat dari Alquran,
surat An-Naml/28: 88.
c.
Kesempurnaan Syari'atnya
Kandungan Alquran yang menjadi
tujuan utama diturunkannya, yakni berupa syari'at Islam menunjukkan bentuk yang
paling sempurna jika dibandingkan dengan bentuk perundang-undangan manapun yang
pernah ada di dunia ini.
syari'at Islam juga diakui sebagai
syari'at yang sesuai dengan kebutuhan manusia, karena ia berasal dari pencipta
manusia itu sendiri, yang tujuan utamanya untuk membebaskan manusia dari alam
gelap gulita enuju dunia pencerahan yang terang-benderang (Q. S. Al-Baqarah/2:
257).
·
Kadar Kemukjizatan Al-qur’an
1. Golongan mu’takzilah berpendapat
bahwa kemu’jizatan itu berkaitan dengan keseluruhan Al-Qu’ran, bukan dengan
sebagainya, atau dengan setiap suratnya secara lengkap.
2. Sebagian ulama berpendapat ,kemu’jizatan itu
sebagian kecil atau sebagian besar dari Al-Qur’an , tanpa harus satu surat
penuh juga merupakan mu’jizat , berdasarkan firman allah “ maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal dengan
Al-Qur’an”,(QS.at-Tur 52 : 34)
3.
Ulama lain berpendapat bahwa kemu’jizatan itu cukup dengan satu surat
lengkap , sekalipun pendek, atau dengan ukuran satu surat , baik satu ayat
ataupun beberapa ayat. Pendapat ini berpegang pada ayat-ayat yang berhubungan
dengan seberapa banyak kadar Al-Qur’an untuk bisa di sebut sebagai mukjizat ,
dan ini ada kaitannya dengan tantangan yang di lontarkan Al-Qur’an kepada ahli
sastra pasa saat itu.
Al-Qur’an telah mengajukan tantangan
agar di datangkan sesuatu yang sama persis dengan AlQur’an dengan
keseluruhannya( QS Al- isra’ 17 : 88) dengan sepuluh surat(QS Hud 11 : 13) dengan satu surat(QS Yunus : 10
:38) dan dengan suatu pembicaraan yang menyerupai Al-Qur’an (QS at-Tur 52 :
34). Namun demikian kita tidak berpendapat bahwa kemukjizatan itu hanya
terletak pada kadar-kadar tertentu saja.
Adapun mengenai segi atau kadar manakah yang mu’jizat itu,
maka jika seseorang peneliti objektif mencari kebenaran Al-Qur’an dari aspek
manapun yang ia sukai, ia akan temukan kemu’jizatan itu dengan jelas dan
terang.
Kadar kemu’jizatan itu meliputi tiga
macam kemukjizatan yaitu kemukjizatan bahasa, kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan
tasyri’(penetepan hokum)
1. kemukjizatan Bahasa
Setiap
manusia yang memusatkan perhatian pada Al-Qur’an akan menemukan rahasia-rahasia
kemukjizatan dari aspek bahasanya. Ia akan dapatkan kemukjizatan itu dalam
keteraturan bahasannya, bunyinya yang indah melalui nada-nada hurufnya. Hal ini
sesuai dengan yang di gambarkan allah.
2. kemukjizatan Ilmiah
Kemu’jizatan
ilmiah Al-Qur’an bukanlah terletak pada cukupannya pada teori-teori ilmiah yang
selalu baru dan berubah sebagai hasil manusia melalui pengamatan dan
penelitian, tetapi terletak pada semangatnya memberi dorongan pada manusia
untuk berpikir menggunakan otaknya.
Semua
persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan ,
merupakan manifestasi dari kegiatan berpikir yang di anjurkan Al-Qur’an .
Al-Qur’an telah membangkitkan pada diri setiap muslim kesadaran ilmiah untuk
memikirkan , memahami dan menggunakan akal.
Al-Qur’an
menganjurkan manusia memiliki semua sifat utama seperti sabar, jujur, dan
berbuat baik ,santun, pemaaf dan tawadlu. Karena manusia pada dasarnya adalah
makhluk social , maka Al-qur’an memulai dengan pendidikan untuk meluruskan
gharizah-gharizahnya, membimbing kearah kebaikan. Di sinilah kemu’jizatan
Al-Qur’an tampil sebagai obat.
4.
Kemukjizatan
Tasyri’
Allah meletakkan dalam diri manusia
banyak garizah (naluri, instinck)
yang berkerja didalam jiwa dan mempengaruhi kecendrungan-kecenderungan
hidupnya.
Umat manusia telah mengenal,
disepanjang masa sejarah, berbagai macam doktrin,pandangan, system dan tasri’ (perundang-undangan) yang
bertujuan tercapainya kebahagian individu didalam masyarakat yang utama. Namun tidak satupun daripadanya yang
mencapainya keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai qur’an dalam
kemukjizatan tasyri’ – nya.
PENUTUP
I.
KESIMPULAN
Dari makalah dapat di ambil
kesimpulan bahwa Al-Qur'an ini adalah Mukjizat terbesar yang diberikan
Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Kita tahu bahwa setiap Nabi diutus Allah selalu
dibekali mukjizat untuk meyakinkan manusia yang ragu dan tidak percaya
terhadap pesan atau misi yang dibawa oleh Nabi.
Dalam
sejarah kemunculan dan berkembangnya pembinaan tentang Kemukjizatan Alquran ,
terlihat bahwa para ahli berbeda pendapat dalam melihat aspek-aspek
kemukjizatan Alquran yang dipandang penting. empat aspek yang meliputi: (1)
as-Sharfah, (2) Keindahan bahasa, (3) Ketelitian Redaksi, dan (4) Kandungan
isinya.
Adapun mengenai segi atau kadar
manakah yang mu’jizat itu, maka jika seseorang peneliti objektif mencari
kebenaran Al-Qur’an dari aspek manapun yang ia sukai, ia akan temukan
kemu’jizatan itu dengan jelas dan terang. Kadar kemu’jizatan itu meliputi tiga
macam kemukjizatan yaitu kemukjizatan bahasa, kemukjizatan ilmiah dan kemukjizatan
tasyri’(penetepan hokum)
DAFTAR PUSTAKA
1. Studi
Ilmu- Ilmu Qur’an oleh Drs. Mudzakir AS
2. KEMUKJIZATAN ALQURAN
(Oleh : Drs. Masran, M. Ag.)